Tampilkan postingan dengan label Motivation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivation. Tampilkan semua postingan

17 November 2014

Program Presiden Joko Widodo Untuk Kedaulatan Pangan

Berikut photo ataupun Leaflet seperti yang diunggah di account page facebook Joko Widodo untuk Kedaulatan Pangan :

18 September 2014

Tanggung Jawab Burung

**Oleh : Khasril Atrisiandy

Selepas Subuh pagi tadi saya melihat seekor burung keluar dari sangkarnya, kemudian terdengar cicitan anak-anak burung yang ditinggal induknya yang terbang entah kemana…

25 Maret 2012

Kecerdasan


Oleh: Isralasmadi

Kecerdasan menurut Dryden,Gordon dan Jeannett Vos : 2004 ada beberapa macam:

30 Maret 2010

Akom, Inspirasi Petani Otodidak


Hasil panen gabah 12 ton-18 ton per hektar bagi Akom Kartim (45) awalnya terdengar mustahil.
Bertahun-tahun menekuni profesi petani padi, produksinya mentok 6 ton per hektar. Namun, rasa penasarannya terjawab setelah mencoba pola budidaya system of rice intensification atau SRI.
 Sejak pertama kali menguji coba SRI, pada musim gadu tahun 2006, Akom langsung mendapat ”jawaban”. Ganjalan hatinya sedikit bergeser ketika mendapati hasil panen yang tak terduga jumlahnya. Dari lahan uji coba seluas 1.000 meter persegi, Akom memanen 1,2 ton gabah kering panen (GKP). Itu berarti 12 ton per hektar! Jauh di atas pencapaian sebelumnya yang berkisar 5 ton-6 ton per hektar. 

Pada musim kedua, dia menetapkan hati untuk menanami seluruh sawahnya seluas 0,5 hektar di Desa Cariumulya, Kecamatan Telagasari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, dengan pola SRI. Hasil uji coba itu mempertegas keyakinannya yang masih samar ketika itu, bahwa panen di atas 10 ton per hektar bukan isapan jempol. Namun dia percaya, dengan doa dan usaha sungguh-sungguh, tidak ada yang tidak mungkin terjadi.
Dengan asumsi hasil 1,2 ton per 1.000 meter persegi, Akom membayangkan hasil panen dari sawahnya mencapai 6 ton pada musim kedua. Namun, kenyataannya lain. Hasil panen kedua dengan pola SRI hanya 3,75 ton atau 62,5 persen dari perkiraan Akom.
”Rupanya, tidak gampang berharap pada lahan yang telah lama ’sakit’ akibat pemakaian pupuk kimia bertahun-tahun. Tanah butuh perlakuan khusus agar pulih lagi,” kenangnya menyimpulkan hasil panen kedua.
Hasil 3,75 ton menjadi prestasi tersendiri bagi Akom. Hasil itu setidaknya lebih tinggi dari pencapaian sebelumnya sebesar 2,5 ton-3 ton. Akom pun terus mengasah kemampuannya untuk memacu produksi. Dia memanfaatkan penyuluh pertanian untuk bertanya, atau minimal menitipkan pertanyaan untuk disampaikan ke ahli, serta meminjam buku tentang pertanian.

Teladan
Pada musim tanam ketiga dengan pola SRI, Akom mendapat ”pengikut”. Mereka tak lain adalah petani tetangganya sendiri di Kampung Kedunggalih, Desa Cariumulya, yang menilai Akom sukses menerapkan SRI. Mereka tertarik mencoba sekaligus berharap hasil panennya meningkat dengan menerapkan cara-cara Akom.
Akom yang terus memperkaya diri dengan ilmu baru rupanya menjadi inspirasi. Padinya yang tampak lebih subur, lebih tinggi, serta memiliki rumpun dan malai lebih banyak membuat hati petani-petani sekitarnya kepincut. Mereka pun menimba ilmu dari Akom.

Hasilnya, sedikit demi sedikit, petani yang menerapkan SRI bertambah. Sawah yang digarap pun meluas menjadi 10 hektar, 20 hektar, 22 hektar, dan terakhir 30 hektar pada musim tanam rendeng 2009/2010 ini. Dari Akom yang seorang diri pada tahun 2006, kini ada 36 petani SRI di Kampung Kedunggalih.
Menurut Akom, pola budidaya SRI berdasarkan buku yang ia baca memiliki beberapa aturan. Ada tiga aturan yang menurut dia pokok, yakni menggunakan sedikit air, menanam bibit muda (umur 7-12 hari atau lebih muda daripada sistem biasa yang berusia 25-28 hari), tidak terlalu dalam menancapkan bibit ke tanah (sekitar 1 sentimeter), serta satu batang bibit untuk satu titik tanam (biasanya lebih dari satu). Semua itu memengaruhi pertumbuhan, perbanyakan rumpun, serta pengisian bulir padi.

Akom melengkapi pola SRI dengan sistem organik. Namun, dia tidak frontal dengan serta- merta meninggalkan pupuk kimia. Khawatir hasil panennya anjlok, Akom mengurangi dosis urea serta NPK dan mencampurnya dengan kompos. Kini petani Cariumulya umumnya menggunakan 1,5 kuintal campuran pupuk urea dan NPK per hektar, lebih kecil dibandingkan dengan sebelumnya yang mencapai 3 kuintal-4,5 kuintal per hektar, serta pupuk kandang dan kompos dari sisa tumbuhan.
Sadar bahwa jumlah ternak yang dapat dimanfaatkan kotorannya terbatas, Akom membentuk Kelompok Tani ”Dewi Sri”, juga berkonsultasi dan bermitra dengan petani-peternak lain. Kini ada sekitar 40 anggota aktif yang rutin berkumpul di ”markas besar” di belakang rumah Akom.
Mereka bertukar informasi di mana bisa mendapatkan kotoran ternak, jerami, dan bahan baku kompos lain di luar kampung. Sesama anggota kelompok juga berbagi mikroorganisme pengurai untuk membantu pembusukan bahan kompos, atau bertukar pendapat dan pengetahuan tentang aneka hal.

Atas keberhasilan itu, Akom diganjar pemerintah pusat dengan predikat Petani Teladan tahun 2009. Bersama dengan 32 petani lain dari seluruh Indonesia, Akom berkesempatan bersalaman dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan menerima sertifikat penghargaan di Istana Presiden, Jakarta, Agustus tahun lalu.
Kini Akom tidak hanya ditodong untuk ”berdakwah” soal SRI oleh anggotanya sendiri, tetapi juga oleh petani dari kecamatan lain, kabupaten lain, juga petugas penyuluh pertanian dan staf dinas pertanian.

Buku pinjaman
Akom tidak pernah menduga usahanya meminjam buku SRI ke seorang Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Kecamatan Telagasari tahun 2006 akan berakhir seperti sekarang. Niat awalnya sebenarnya hanya ingin memupus rasa penasaran soal hasil panen yang tinggi.
”Di buku itu tertulis bahwa usaha SRI di Thailand bisa menghasilkan 14 ton per hektar, di Taiwan 18 ton per hektar, dan beberapa negara Asia lain hingga 12 ton per hektar. Awalnya seperti tidak mungkin, saya penasaran dan mencobanya, ternyata bisa meski belum optimal,” ujarnya.
Buku itu kemudian menjadi ”kitab” yang sering dia bolak-balik saat menemukan masalah di lapangan. Ibarat obat yang mujarab, buku itu lantas menjadi rebutan. Beberapa petani meminjamnya secara bergantian
Tidak hanya pada tanaman padi, Akom juga mengaplikasikan sistem organik pada komoditas lain yang dia tanam, seperti jambu biji, pisang, kacang panjang, dan labu. Komoditas nonpadi ini menjadi sumber penghasilan tambahan di luar padi yang rutin dia tanam dua kali setahun.

Akom memang tidak pernah berhenti mengeksplorasi ide. Dari hasil utak-atiknya, dia menciptakan teknologi tepat guna, emposan tikus elektrik! Alat pengembus asap (warga setempat menyebutnya emposan) belerang ciptaannya biasa dipakai untuk mengusir tikus dari lubang-lubangnya, bahkan telah dipamerkan saat kunjungan pejabat ke Karawang. Terakhir, Dinas Pertanian Karawang memesannya ratusan unit, belum termasuk pesanan petani dari luar Cariumulya.
Akom merasa usahanya belum seberapa. Dia masih menyimpan energi untuk mewujudkan ide-ide yang lain. Harapannya sederhana, menginspirasi petani di desanya agar peka perubahan, dengan terus belajar dan bergerak maju.

AKOM KARTIM

• Lahir: Karawang, 10 Mei 1964
• Pendidikan:
 - SD Cariumulya (1976)
 - SMP PGRI Telagasari (1979)
- SMA PGRI Karawang (1982)

• Istri: Iyat Nurhayati (35)
 • Anak: Nur Aini (19), Muhidin (11)
• Prestasi: Petani Teladan Tingkat Nasional 2009

 Sumber : Mukhamad Kurniawan
 http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/03/05094970/akom.inspirasi.petani.otodidak
Rabu, 3 Maret 2010 | 05:09 WIB




17 Maret 2010

an inspiring........

INDONESIA doesn't need the world, but the world need INDONESIA


Suatu pagi di bandar lampung, menjemput seseorang di bandara. Orang itu sudah tua, kisaran 60 tahun. Sebut saja si bapak.

Si bapak adalah pengusaha asal singapura, dengan logat bicara gaya
melayu, english, (atau singlish?) beliau menceritakan pengalaman-pengalaman hidupnya kepada kami yang masih muda. Mulai dari pengalaman bisnis, spiritual, keluarga, bahkan percintaan hehehe...

"Your country is so rich!"

Ah biasa banget kan denger kata2 begitu. Tapi tunggu dulu..

" Indonesia doesnt need d world, but d world need Indonesia " "Everything can be found here in Indonesia , u dont need d world"
"Mudah saja, Indonesia paru-paru dunia. Tebang saja hutan di Kalimantan , dunia pasti kiamat. Dunia yang butuh Indonesia !"

" Singapore is nothing, we can't be rich without indonesia... 500.000 orang indonesia berlibur ke singapura setiap bulan. bisa terbayang uang yang
masuk ke kami? apartemen-apartemen dan condo terbaru kami yang membeli pun orang-orang Indonesia, gak peduli harga yang selangit, laku keras. Lihatlah rumah sakit kami, orang Indonesia semua yang berobat."

"Kalian tahu bagaimana kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk? ya benar-benar panik. sangat berasa, we are nothing."

"Kalian gak tau kan kalo Agustus kemarin dunia krisis beras, termasuk di Singapura dan Malaysia ? kalian di Indonesia dengan mudah dapat beras"

"Lihatlah negara kalian, air bersih dimana-mana... lihatlah negara kami, air bersih pun kami beli dari Malaysia. Saya pernah ke Kalimantan, bahkan pasirpun mengandung permata. Terlihat glitter kalo ada matahari bersinar. Petani disana menjual Rp.3000/kg ke sebuah pabrik China. Dan si pabrik menjualnya kembali seharga Rp.30.000/kg. Saya melihatnya sendiri"

"Kalian sadar tidak kalo negara-negara lain selalu takut meng-embargo Indonesia ?

Ya, karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut kalo kalian menjadi mandiri, makanya tidak di embargo. harusnya KALIANLAH YANG MENG-EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Beli lah dari petani-petani kita sendiri, belilah tekstil garmen dari pabrik-pabrik sendiri. Tak perlu kalian impor kalo bisa produksi sendiri."

"Jika kalian bisa mandiri, bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI, Indonesia will rules the world.."


(Ceritera dari seorang kawan, sayang kalau tidak untuk diceritakan...an inspiring from zainuri hanif and tanggungrenteng'09)